Jumat, 04 Maret 2011

Kemuliaan Sri Vishnu Sahasranama Stotram 3


vAsudevASrayo martyo vAsudeva parAyaNaH |
sarvapApaviSuddhAtmA yAti brahma sanAtanam ||
na vAsudevabhatAnAmaSubham vidyate kvacit |
janmamRtyujarAvyAdhibhayam vApyupajAyate ||

Umat manusia yang telah menyerahkan dirinya berlindung kepada Vasudeva dengan pemahaman bahwa Vasudeva adalah tujuan tertinggi yang hendaknya dicapai, maka dia akan disucikan dari segala dosa dan pikirannya akan dimurnikan. Pada akhirnya dia akan mencapai Brahman Yang Mahakekal. Bagi hamba Tuhan Vasudeva, tidak akan pernah ada hal buruk yang menimpanya. Tidak pula ia memiliki rasa takut terhadap derita kelahiran, kematian, usia tua, dan penyakit.

imam stavamadhIyAnah SraddhAbhaktisamanvitah |
yujyetAtmasukhakshAntih SrIdhRtismRtikIrtibhih ||

Umat manusia yang melantunkan stotra suci ini dengan penuh keyakinan dan pengabdian, diberkati dengan sukacita dalam dirinya, kesabaran, kemakmuran, keteguhan batin, ingatan yang tajam, dan segala kemashyuran.

na krodho na ca mAtsaryam na lobho nAsubhA matih |
bhavanti kRta puNyANAm bhaktAnAm purushottame ||

Amarah dan iri dengki, keserakahan dan pikiran jahat tidak pernah menodai batin orang-orang yang menjadi hamba Sang Pribadi Tertinggi, yang telah mencapai matangnya buah kebajikan dari perbuatan-perbuatan saleh.


shatrA kham diSo bhUh mahodadhiH |
vAsudevasya vIryeNa vidhRtAni mahAtmanaH ||

Angkasa nan luas, berikut bulan, matahari, bintang-bintang, langit, segala penjuru, bumi, samudera raya, semuanya berada di bawah kendali kuasa Vasudeva, Tuhan Junjungan Tertinggi.

Berbagai manfaat yang tiada terkira telah diuraikan dalam berbagai sloka sebelumnya, termasuk anugerah Moksha bagi mereka yang melantunkan stotra ini dengan penuh kebaktian. Sri Bhattar mengemukakan bahwa mungkin saja ada mereka-mereka yang karena ketidak beruntungannya, menimbang-nimbang dan ragu akan kebenaran sloka-sloka tersebut. Maka dari itu sloka ini mengingatkan akan kesalahan berpikir seperti itu. Sloka-sloka ini dan berikutnya menyatakan bahwa tidak ada yang perlu diragukan dari keagungan, kekuatan dan kekuasaan Bhagavan Vishnu. Kita harus mengingat bahwa stotra ini dipersembahkan kepada siapa dan yang memberikan anugerah tiada terkira ini tak lain dan tak bukan adalah Yang Mahakuasa. Yang mewujudkan segala keajaiban semesta yang tiada bandingannya! Karena itu stotra ini beserta segala pernyataan di dalamnya bukanlah sesuatu yang sengaja dilebih-lebihkan, karena tentu tiada kata berlebihan bagi Yang Tiada Batas-Nya! Pemahaman serupa juga ditekankan oleh Sri Sankara, sepakat dengan apa yang telah digarisbawahi oleh Sri Bhattar.

sa-surAsura-gandharvam sa-yakshoraga-rAkshasam |
jagad-vaSe vartatedam kRshNasya sa-carAcaram ||

Dunia ini beserta segenap makhluk hidup dan benda mati, yang bergerak maupun yang tak bergerak, berikut para Deva, gandharva, yaksha, naga, dan raksasa. Semua berada di bawah kendali Sri Krishna.

sarvAgamAnAmAcArah prathamam parikalpyate |
AcAra prathamo dharmo dharmasya prabhur-acyutah ||

Perilaku yang benar adalah aturan tertinggi yang harus diperhatikan oleh semua sastra suci. Segala jenis sastra suci yang menganjurkan pelaksanaan berbagai ritual (anusthana-sastra) dan sastra suci yang menjelaskan segala seluk beluk yang mendasari suatu karya keagamaan (tattva-sastra) berada di bawah kendali Acyuta.

Rshayah pitaro devAh mahAbhUtAni dhAtavah |
ja'ngamAja'ngamam ca idam jagat nArAyaNodbhavam ||

Para Rishi agung, para dang hyang leluhur, para deva yang beraneka rupa, unsur-unsur pembentuk dan hasilnya, beserta segala makhluk yang bergerak maupun tak bergerak, yang menyusun segenap isi alam semesta, bersumber tiada lain dari Narayana.

yogo jnAnam tathA sA'nkhyam vidyAh SilpAdikarma ca |
vedAh SastrANi vijnAnam etat sarvam janArdanAt ||

Ilmu pengetahuan yoga, sankhya, berbagai cabang ilmu lain seperti seni, kerajinan, bahkan semua Veda dan sastra, semua ini berasal dari Janardana.

eko vishNur mahad-bhUtam pRthak-bhUtAnyanekaSah |
trIn-lokAn vyApya bhUtAtmA bhu'nkte viSva-bhuk avyayah ||

Vishnu adalah Tuhan Junjungan yang tunggal tiada dua-Nya dan tiada bandingan-Nya. Beliau meresapi segalanya di ketiga semesta dan juga segenap dunia rohani yang tidak terukur.

imam stavam bhagavato vishNor-vyAsena kIrtitam |
paThed-ya-icchet purushah Sreyah prAptum sukhAni ca ||

Umat manusia yang menginginkan kebahagiaan tertinggi yang tiada batasnya dan juga sukacita di dunia, hendaknya mendaraskan stotra suci ini, yang diabadikan bagi Bhagavan Sri Vishnu, yang telah dikidungkan oleh Sang Rishi Agung Vyasa.

Sri Bhattar dalam ulasannya memandang sloka ini sebagai rangkuman dari stotra ini dan menyampaikan pengalaman batinnya yang menjelaskan mengapa Sri Vishnu Sahasranama Stotra memiliki kuasa yang begitu besar dan kedudukan yang sangat luhur. Stotra ini mengidungkan puji-pujian kemuliaan Tuhan Tertinggi Vishnu, yang kemaha-agungan-Nya tiada batas-Nya. Beliau yang memuliakan-Nya melalui stotra ini tiada lain adalah Maharishi Vyasa, yang telah ‘meminum’ keagungan Tuhan sepenuh-penuhnya, dan yang tidak pernah kehabisan kata-kata dalam memuji serta menguraikan kemahaluhuran-Nya. Inilah Permata segala kidung suci, yang mengandung keagungan Beliau yang dipuja dan juga keagungan dari yang memuja-Nya. Dunia yang penuh cacat cela pantaslah melantunkan kidung yang mahasuci ini, karena dia memiliki kesaktian untuk menawarkan segala penderitaan alam fana dan menyelamatkannya dari kehancuran serta cacatnya. Oleh karenanya, segala sesuatu yang berkenaan dengan stotra ini adalah sempurna adanya. Sempurna yang kemuliaan-Nya dikidungkan, sempurna sang pujangga yang mengidungkannya, dan sempurna anugerah-anugerah utama yang dicurahkan bagi mereka yang melantunkannya. Maka siapapun yang menghendaki sukacita tertinggi atau kenikmatan duniawi, apapun latar belakangnya, bolehlah menggantungkan diri padanya.

viSveSvaram ajam devam jagatah prabhavApyayam |
bhajanti ye pushkarAksham ne te yAnti parAbhavam ||
|| na te yAnti parAbhavam oM nama iti ||

Bhagavan Pundarikaksha, Tuhan yang mata-Nya seindah seroja, adalah Pujaan Tertinggi, yang tidak dilahirkan, Penguasa semesta alam, dan Sebab Asli segala ciptaan serta peleburan alam semesta. Mereka yang melantunkan kidung puja-puji bagi-Nya, tidak akan pernah mengalami kehinaan apapun bentuknya.

Rabu, 02 Maret 2011

Kemuliaan Sri Vishnu Sahasranama Stotram 2


dharmArthI prApnuyAddharmamarthArthI cArthamApnuyAt |
kAmAnavApnuyAt kAmI prajarthI cApnuyAt prajAh ||


Dalam sloka ini dijelaskan bahwa mereka yang menginginkan kebenaran (dharma), akan diberkati dengan dharma. Mereka yang mengidamkan kekayaan dan kemakmuran akan memperolehnya. Mereka yang menginginkan hidup penuh kenikmatan akan memperoleh nikmatnya dunia. Sedangkan mereka yang berharap memiliki keturunan akan diberkati dengan anak-anak.
bhaktimAn yah sadotthAya Sucis-tad-gata mAnasaH | sahasram vAasudevasya nAmnAmetat prakIrtayet ||

Sri Bhattar selanjutnya mengelompokkan sloka di atas dan 3 sloka berikutnya sebagai pernyataan mengenai manfaat yang akan diperoleh seorang bhakta, yang mendaraskan nama-nama ini sebagai Japa dengan mengikuti aturan-aturan atau disiplin yang telah ditentukan.

Dari kedua sloka sebelum ini, diperhatikan bahwa pelantunan baik dengan cara terdengar jelas, berbisik, atau dalam batin, maupun mendengarkan pelantunan stotram ini saja, maka akan memperoleh manfaat. Manfaat itu dianugerahkan pada mereka yang secara terbuka memohonnya maupun yang tidak, seperti anugerah otomatis yang diterima seseorang yang patuh terhadap pelaksanaan varna dharma-nya sendiri. sekarang Vyasa menunjukkan bahwa apabila seseorang bangun pada dini hari, menyucikan dirinya dengan mandi berikut melaksanakan berbagai ritual yang sesuai dengan dharmanya sebagaimana diatur dalam pustaka suci menurut varna dan asramanya, lalu kemudian melantunkan seribu nama suci Bhagavan Vasudeva ini dengan pikiran yang sepenuhnya terpusat kepada-Nya, maka dia akan dianugerahi dengan pembebasan tertinggi itu sendiri.

Sri Sankara menyatakan, “bhaktimAn ityAdinA bhaktimatah Suceh satatam udyuktasyaikAgra cittasya SraddhAlorviSishTAdhikAriNah phala viSesham darSayati, berikutnya adalah manfaat khusus yang dianugerahkan kepada mereka yang penuh kebaktian, suci murni, senantiasa memusatkan batinnya dengan penuh perhatian, dan berkeyakinan penuh.” Sri Radhakrishna Sastri juga mencatat bahwa yang dinyatakan berikut adalah manfaat-manfaat yang akan dicapai oleh seseorang yang memiliki pengabdian terpusat kepada Vasudeva, terus-menerus mengarahkan batinnya kepada Beliau, berpikiran, berucap, dan perbuatannya suci, dan ditambah dengan melantunkan seribu nama Bhagavan Vasudeva sebagaimana dikemukakan dalam sloka ini.

yaSah prApnoti vipulam jnAti prAdhAnyameva ca | acalAm SriyamApnoti Sreyah prApnotyanuttamam || na bhayam kvacitApnoti vIryam tejaSca vindati | bhavatyarogo dyutimAn balarUpaguNanvitah || rogArto mucyate rogAdbaddho mucyeta bandhanAt | bhayAnmucyeta bhItastu mucyetApanna ApadaH ||

Prof. Srinivasa Raghavan menerjemahkan sloka ini sebagai berikut, “Dia akan diberkati dengan nama besar dan kemakmuran, dia akan menjadi yang paling terkemuka di antara semua handai taulannya. Dia akan memperoleh kekayaan dan kemakmuran yang tiada habis-habisnya di dunia ini, dan dia juga akan memperoleh harta yang tiada bandingannya dalam hidup selanjutnya. Tidak ada yang ditakutinya di segala penjuru. Dia akan memperoleh kekuatan dan kuasa. Dia tidak pernah merasa dalam keadaan tidak enak dan senantiasa bercahaya cemerlang. Dia diberkati dengan kekuatan, tubuh yang sehat, dan sifat-sifat yang mulia. Dia yang tengah menderita sakit akan disembuhkan. Dia yang terbelenggu akan dibebaskan. Dia yang dikuasai oleh rasa takut akan terbebas sepenuhnya, dan dia yang mengalami kesulitan akan mampu melampaui serta mengatasinya.”

Sri Bhattar dalam ulasannya menekankan bahwa seluruh sloka ini berpusat pada satu anugerah. Kata anuttamam sreyah (kekayaan/harta yang tiada bandingannya) adalah moksha atau pembebasan /kelepasan tertinggi. Sedangkan anugerah-anugerah yang lain adalah manfaat keberhasilan di dunia. Walau demikian menurut Sri Bhattar ada dua cara pandang terhadap anugerah-anugerah lain ini. Pertama mereka merupakan karakteristik yang menyertai pencapaian pembebasan itu sendiri. jadi secara otomatis, para jiva yang telah mencapai pembebasan diberkati dengan berbagai keistimewaan seperti disebut di atas, sekalipun mereka masih ada di dunia. Yang kedua adalah bahwa anugerah-anugerah lain ini hendaknya dipahami sebagai pendukung untuk mencapai yang paling penting dan utama yaitu moksha, satu-satunya anugerah tertinggi yang hendaknya menjadi aspirasi kita.

Berdasarkan pengertian kedua maka dapat dipahami sbb.
1. Terbebas dari kecemasan dipahami sebagai keyakinan penuh bahwa Bhagavan, Tuhan Yang Maha Esa, pasti akan datang menyelamatkan kita dari samudera derita samsara pada akhir hidup kita saat ini juga. Keyakinan ini menghapuskan segala kekhawatiran. Ini disebut Maha-visvasam.
2. Memperoleh harta kekayaan yang tiada habis-habisnya, acalam-sriyam, bermakna bahwa dia akan memperoleh berkat dan kesempatan yang tidak terbatas untuk senantiasa berada sepenuhnya dalam pelayanan pengabdian suci kepada Tuhan, kainkarya-sri.
3. Dibebaskan dari segala penyakit berarti berakhirnya atau terbebasnya dari penyakit yang paling parah yaitu kemelakatan kepada keduniawian dan objek-objek yang bersifat fana dalam kehidupan ini. Itu berarti kemelakatan kepada tubuh dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tubuh sementara ini juga akan diakhiri.
4. Tidak ada yang dapat menimbulkan rasa takut karena penyebab ketakutan kita yang terbesar yaitu penderitaan kematian dan kelahiran yang dialami berulangkali dalam samsara akan dipadamkan.
5. Memperoleh kemashyuran yang utama berarti sang abdi akan dikenal dengan pengabdian dan penghambaannya yang penuh menyeluruh kepada Bhagavan Vasudeva sebagai wujud pencapaian yang tertinggi.
6. Cahaya kharisma dari hamba Tuhan yang demikian, akan bersinar dengan sendirinya sebagaimana kita rasakan ketika berada bersama Acarya-acarya kita.
7. Selanjutnya dinyatakan bahwa apabila seseorang sepenuhnya berbakti kepada Sri Krishna dan satu-satunya hasrat hatinya hanyalah demi Sri Krishna, maka semua kesulitannya akan secara otomatis lenyap walaupun dia tidak berdoa untuk itu.

durgANyatitaratyASu purushah purushottamam | stuvannAmasahasreNa nityam bhakti samanvitah ||

Seseorang yang dengan penuh pengabdian memuliakan Sang Pribadi Tertinggi, Purusottama, dengan mendaraskan seribu nama-nama suci-Nya ini setiap hari, akan berjaya di atas segala hal yang menyulitkan dengan sangat mudah.

Senin, 31 Januari 2011

Kemuliaan Sri Vishnu Sahasranama Stotram


Sri Vishnu Sahasranama Stotram adalah kidung pujian yang paling dimuliakan dalam tradisi penganut Sanatana Dharma. Tiada terhitung jumlahnya orang suci, para Rishi, sarjana, dan spiritualis yang menuangkan pengalaman rohaninya ke dalam begitu banyak ulasan terhadap Stotra ini. Salah satu kisah adalah ketika Sri Adi Sankaracharya hendak memulai karya agungnya menyusun ulasan atas berbagai cabang sastra suci Veda yang kemudian memuncak pada ulasan Vedantasutra-nya, maka beliau menginginkan untuk membuat awal yang mujur dengan menulis ulasan pertama atas kitab atau bagian tertentu dari Veda yang mahaluas. Benaknya adalah memuliakan Sri Lalitasahasranama, kidung pujian bagi seribu nama Sang Dewi Ibunda Semesta, namun setiap kali mengambil secara acak, maka naskah Sri Vishnu Sahasranamalah yang selalu dibawa berulang-ulang oleh muridnya. Ketika Sri Sankara merasa sedikit kecewa, maka muncullah Sang Dewi dalam rupa-Nya sebagai Sarasvati, untuk meyakinkan Sri Sankara menulis ulasan Sri Vishnu Sahasranama Stotra sebagai awal mujur bagi keseluruhan karya agungnya. Sri Sankara lalu memang mengalami bahwa kuasa dari stotra ini memang sungguh membuatnya mampu menyelesaikan semua tugas beratnya. Kegembiraannya tercermin dari kata-kata Sankara, geyam gita nama-sahasram dhyeyam sripati rupamajasram, “Nyanyikan Gita dan lantunkan Sahasranama. Pusatkanlah batin kepada Rupa dari Sripati, Tuhan Junjungan Sri”

Sri Vishnu Sahasranama Stotram dinyatakan sebagai revelasi melalui Maharishi Vyasa di dalam garis Rishi universal yang kekal Sanaka. Vyasa lalu mengajarkannya kepda Bhisma, Sang Sesepuh Agung Dinasti Bharata. Ketika Bhisma berada di akhir hidupnya, terbaring di atas tilam anak-anak panah, Sri Krishna memerintahkan Yudhistira untuk memohon amanat dan ajaran kebijaksanaan terakhir dari yang paling dituakan dari keluarga mereka ini. Sri Krishna lalu menambahkan anugerah bahwa kata-kata apapun yang nantinya diucapkan, apapun petuah yang diberikannya, akan abadi di dunia ini bagaikan madu kekekalan yang memancar dari bunga Veda yang indah. Bhisma setuju dan inilah ajaran yang dipilihnya sebagai warisan terakhir bagi dunia.

Sebelumnya Bhisma menjelaskan panjang lebar mengenai berbagai Dharma, aturan-aturan etik dan perilaku, serta berbagai bentuk pelaksanaan tugas dan kewajiban. Akhirnya Yudhistira bertanya kembali kepada Bhisma enam pertanyaan sebagai kesimpulan yaitu: Siapakah Tuhan Yang Tertinggi, apakah yang menjadi tujuan akhir seorang manusia menurut kesimpulan semua sastra suci, siapa yang hendaknya disembah untuk bisa mencapai tujuan itu, dengan mendaraskan apakah seseorang dapat mencapai tempat yang mulia, apakah jalan Dharma yang terbaik untuk ditempuh, dan stotra apa yang hendaknya dilantunkan agar dapat terbebas dari belenggu kehidupan duniawi dan memadamkan derita kelahiran – kematian yang berulang-ulang.

Ada pula suatu kisah tentang Sri Madhvacharya dalam perjalanan sucinya ditantang oleh para sarjana untuk membuktikan pernyataannya bahwa setiap nama dari Sahasranama memiliki seribu makna. Acharya memulainya dari nama pertama yaitu Vishwa seharian penuh. Ketika beliau hendak melangkah ke nama ke dua, para sarjana memohonnya agar berhenti, karena mereka merasa kemampuan daya tangkap mereka tidaklah cukup untuk menampung seluruh makna Sahasranama tersebut.

Sri Mukkur Laksminarasimhacharyar kemudian mengungkapkan dalam kotbah selama berminggu-minggu beberapa aspek penting dari Sri Vishnu Sahasranama Stotram. Delapan aksara pertama dari sloka pertama, Vishwam – Vishnu – Vashatkarah dikenal sebagai Astaksari. Diwejangkan oleh Nara Narayana di tempat suci Badrikashrama, di pegunungan Himalaya, dan dipahami sebagai mengandung intisari dari seluruh pengetahuan Upanishad. Lalu ditambah 8 aksara berikutnya dari Bhuta – Bhavya – Bhavatprabhuh, merupakan representasi dari 16 Rik Purusasuktam, Sukta paling inti, yang paling dimuliakan, dan paling sering dilantunkan dalam Veda. Lanjut 8 aksara dari Bhutakrit – Bhutabrit – Bhavah, menjadi 24 aksara yang menyatakan Gayatri Mahamantra. Gayatri sendiri adalah mantra 24 aksara yang menyarikan pengetahuan ketiga Veda. Ditambah 8 aksara berikutnya dari Bhutaatma – Bhuta bhavanah membentuk 32 aksara yang mewakili Mantraraja! Jika diperhatikan lagi susunannya maka diperoleh 9 nama dalam sloka pertama, 8 dalam sloka ke dua, dan 7 dalam sloka ke tiga. Kembali jumlahnya menjadi 24, sesuai dengan jumlah aksara Gayatrimantra. Jadi hanya dari sloka pertama yang mengandung 9 nama saja kita memperoleh rujukan pada Astaksari, Purusasuktam, Gayatrimantra, dan Sri Mantraraja. Selanjutnya juga diungkapkan makna rahasia dari nama yang muncul di urutan ke 394 yaitu “Rama”. Lalu diulang dengan berbagai bentuk sebanyak 16 kali dalam Vishnu Sahasranama ini. semua itu mewakili Mrita-sanjivani-mantra, mantra yang memiliki kesaktian menghidupkan kembali orang mati, yang bentuk dan susunannya hanya diketahui oleh Sukracharya!

Ini disampaikan oleh Bhisma kepada Yudhistira pada akhir dari 107 sloka yang mengandung 1000 nama suci Bhagavan di dalamnya. Artinya adalah sebagai berikut, “Demikianlah, keseribu nama suci Bhagavan Kesava, Sang Ada Tertinggi, satu-satunya yang layak dimuliakan dan dipuji, telah usai dilantunkan secara keseluruhan.”

Sri Parasara Bhattar mengulas kata ‘kirtaniyasya’ sebagai pernyataan yang dipilih untuk mengungkapkan bahwa Bhagavanlah yang layak dimuliakan dan dipuji. Dengan menggunakan kata ini maka Bhisma memberitahu Yudhistira bahwa pelantunan nama-nama suci ini harus dia lakukan segera setelah dia mengetahuinya dari Bhisma. Alasan yang sama juga berlaku saat Bhagavan dalam sloka ini disebut Kesava (Sang Pencipta Brahma dan Siva) dan juga kata Mahatmanah (bahwa Beliau adalah Sang Ada Yang Tertinggi). Jadi semua ini menunjukkan betapa pentingnya kidung pujian 1000 nama suci Tuhan, sehingga begitu kita mengetahuinya, maka hendaknya segera dilantunkan semampunya.

Kata divyanam yang disandangkan pada nama-nama ini menyatakan bahwa nama suci Tuhan tersebut dilantunkan baik di alam duniawi maupun di dunia rohani Sri Vaikuntham. Sifat rohani nama-nama suci yang melampaui segala pengaruh alam fana dinyatakan dengan tegas di sini. Bahkan nama-nama ini dikidungkan oleh para Nityasuri, Jiva-jiva sempurna yang kekal di alam rohani tertinggi. Inilah stotra pujian yang secara khusus dipilih untuk dinyanyikan oleh para Rishi agung (rsibhih parigitani). Stotra ini tidaklah sama dengan stotra-stotra lain yang kita kenal sebelumnya. Bahkan saat diungkapkannya stotra ini oleh Bhisma kepada Yudhistira adalah dalam kondisi yang sangat khusus, yaitu dalam kehadiran langsung Bhagavan Sri Krishna yang dimuliakan dalamnya.

Lalu dengan kata aseshena dinyatakan bahwa tidak ada satupun yang begitu bermakna dan sangat penting tertinggal dalam apa yang disampaikan Bhisma kepada Yudhistira. Segala sesuatu yang perlu diketahui telah diberitahukan dengan sempurna. Sri Adi Sankaracharya menjelaskan bahwa kata aseshena bermakna a-nyuna, an-atirikta, tidak kurang, tidak lebih, namun tepat seribu nama yang paling suci dan mulia. Ini mengisyaratkan bahwa seribu nama suci yang dilantunkan Bhisma adalah sungguh-sungguh amat penting dan tidaklah dipilih secara acak atau sembarangan saja. Berkenaan dengan ini Sri Sankara juga membawa kita pada enam pertanyaan Yudhistira di awal, yang menyebabkan diungkapkannya kidung suci ini. Salah satunya adalah “kim japan mucyate jantuh, dengan melantunkan atau mendaraskan (mantra) apakah seseorang akan dibebaskan dari belenggu penderitaan samsara?” Demi menjawabnya maka ditunjukkanlah seribu nama suci ini sebagai objek Japa atau pelantunan berulang-ulang. Sri Sankara menegaskan bahwa praktik Japa terdiri dari tiga jenis, uccha, upamsu, dan manasa, suara terdengar jelas, berbisik, dan dalam batin (trividha japo lakshyate – uccaA, upAmSu, mAnasa lakshaNah trividho japah). Kata prakirtitam dalam sloka ini mengungkapkan bahwa ketiga jenis Japa tersebut dapat digunakan untuk melantunkan pujian ini kepada Bhagavan.

ya idam SRNuyAt nityam yaScApi parikIrtayet |
nA'Subham prApnuyAt ki'ncit so'mutreha ca mAnavaH ||

Sloka ini menjelaskan secara umum kualifikasi untuk melantunkan stotra dan hasil yang diperoleh dari praktik itu. “Tiada sesuatupun hal yang tidak mujur dan tak dikehendaki, yang akan menimpa orang itu, baik di dunia ini ataupun di dunia selanjutnya, apabila dia secara teratur melantunkan ataupun mendengar stotra ini. ”

Dalam ulasannya Sri Bhattar mengungkapkan bahwa seseorang yang menurut kualifikasi dan kemampuannya, mendengar stotra ini atau merenungkannya di dalam hati, maka dia tidak akan pernah mengalami segala sesuatu yang buruk di dunia ini dan juga di dunia-dunia lainnya. Perhatikan bahwa manfaat dapat diperoleh baik dengan melantunkannya maupun hanya dengan mendengarkan saja.

Istilah dunia selanjutnya (amutre ca), dimaksudkan untuk menyatakan dunia-dunia yang lebih rendah dari Sri Vaikuntham, seperti Svarga, Brahmaloka, dsb. Sri Sankara mengemukakan kasus raja Yayati dan ayahnya Nahusa. Keduanya mencapai Brahmaloka dan Indraloka, namun karena mereka melakukan kesalahan kepada Brahmana setelah mencapai alam-alam luhur ini, maka pada akhirnya mereka harus menderita. Kejadian-kejadian tidak mujur semacam itu tidaklah akan pernah menimpa mereka yang melantunkan atau mendengar stotra rohani ini, yayati-nahushadivat asubha prapti abhavam.

vedAnta-go brAhmaNah syAt kshatriyo vijayI bhavet |
vaiSyo dhana samRddhah syAt SudraH sukham avApnuyAt ||

Sloka-sloka berikutnya menyatakan manfaat-manfaat yang dapat dicapai dengan melantunkan stotra ini, mendengarkan pendarasannya, dsb. Sri Bhattar menggolongkan manfaat-manfaat tersebut sbb. :

Sloka di atas menyatakan manfaat-manfaat yang dicapai oleh para anggota empat varna, ketika mereka melantunkan stotra tanpa secara khusus mengarahkan tujuannya agar mencapai hasil tertentu, dengan demikian mereka tidak perlu mengikuti atau menjalankan praktik kedisiplinan khusus dan yang lainnya.

Sloka berikutnya menyatakan manfaat yang dicapai oleh mereka yang melantunkannya dengan tujuan-tujuan khusus dalam pikirannya. Lalu dilanjutkan oleh sloka-sloka yang menjelaskan manfaat yang diperoleh oleh mereka yang melantunkan stotra mengikuti disiplin khusus seperti bangun pada dini hari, mandi, dsb. sebelum melantunkannya.

Dengan demikian, selalu ada manfaat yang dianugerahkan melalui pelantunan stotra ini baik bagi yang melakukannya dengan penuh kebaktian maupun yang melakukannya tanpa mengikuti disiplin-disiplin khusus, apakah orang itu menginginkan manfaat tertentu atau tidak, semuanya akan memperoleh anugerah. Bahkan itu bukan saja berlaku bagi yang melantunkannya, tetapi juga bagi mereka yang kebetulan mendengarkan stotra ini didaraskan.

Sloka di atas mengungkapkan bahwa manfaat-manfaat tertentu akan diterima secara otomatis oleh orang-orang yang tergolong dalam empat varna, apakah mereka melantunkannya atau hanya mendengarnya, tanpa perlu mengikuti aturan-aturan khusus dan juga tanpa menginginkan berkat istimewa tertentu. Dengan demikian seorang Brahmana akan menguasai pengetahuan Vedanta, dengan kata lain, pengetahuan sejati mengenai sang diri dan hubungannya dengan Sang Diri Tertinggi (Tuhan). Bila dia seorang Ksatriya, maka dia akan selalu berjaya. Seorang Vaisya akan berhasil dalam perdagangan/usahanya dan memperoleh kekayaan berlimpah. Sedangkan sorang Sudra akan dianugerahi kebahagiaan yang besar.

Salah satu pengulas menambahkan bahwa berdasarkan sloka ini yang merujuk manfaat yang diperoleh keempat varna, maka sesungguhnya dinyatakan bahwa sebenarnya tidak ada batasan bagi siapapun yang ingin melantunkan stotra ini. Beberapa Acharya dengan berbagai pertimbangan meminta agar para pengikutnya yang perempuan agar membatasi pengucapan sebagian stotra ini atau secara keseluruhan. Petunjuk-petunjuk demikian bervariasi, ada yang membatasi hanya 107 sloka, dari visvamvishnuh sampai shankabhrnnandaki, ada pula yang tidak memperbolehkan perempuan mengucapkannya sama sekali. Walau demikian tidak ada batasan dalam mendengarkan pelantunan stotra ini, dan perlu diingat bahwa mendengar dengan perhatian juga membawa manfaat yang sama dengan mendaraskannya secara langsung. Namun dalam keadaan apapun, petunjuk khusus yang diberikan oleh Acharya harus diikuti dengan taat.

Bersambung -

Rabu, 17 Maret 2010

SRI NRUSIMHA MANTRARAJA

Apakah makna penting dari Sri Nrusimha Mantra? Mengapa disebut sebagai Mantraraja?

UGRAM VIRAM MAHAVISHNUM JVALANTAM SARVATOMUKHAM | NRSIMHAM BHISHANAM BHADRAM MRTYUMRTYUM NAMAMYAHAM ||

Inilah mantra yang dikenal sebagai Rajadiraja semua Mantra yang disusun dalam matra Anustuph. Karena itu dimuliakan pula sebagai Sri Mantraraja. Mantra ini bersama dengan Sri Gayatri Mantra dan sloka-sloka dari Rahasyatraya-saram akan menganugerahkan kebahagiaan yang tak terbatas dan pembebasan kepada para Bhakta. Dapatlah dikatakan ini sebagai Mantraraja yang mengagungkan Sang Rajadiraja, Tuhan di atas segala tuhan, sebagai Bhagavan yang telah berinkarnasi sebagai Mrugaraja, Singa Yang Mahaperkasa. Bhakta yang ingin mengucapkannya hendaknya menerima penganugerahan kuasa (abhiseka-diksha) dari seorang Sad-acharya, sehingga kekuatannya mewujudkan manfaat-manfaat yang baik dan benar.


Sri Ahirbudhnya, Siva-Rudra, melaksanakan Prapatthi, penyerahan diri di bawah kaki padma Tuhan dan Gurunya, Sri Nrisimha Bhagavan, sehingga dia memperoleh kekuasaan dan kekuatannya. Dia melantunkan Sri Mantararaja Pada Stotram untuk memuliakan Mantra Agung ini. Demikian pula semua Veda, menundukkan kepala menyembah kaki padma Sri Kamasikahari Nrisimha yang bermata tiga. Tapana (matahari), Indu (rembulan), dan Agni (api) adalah ketiga mata-Nya yang memusnahkan segala kemalangan dan penderitaan yang berasal dari tiga sumber (Tapatraya: adyatmikam, adibhautikam, adi daivikam). Veda kemudian menghadirkan Sri Nrisimha Tapini Upanisad yang memuliakan Sri Mantraraja. Sri Nrisimha Bhagavan, Sri Mantraraja dan Upanisadnya adalah pemusnah Tapam, dengan demikian ketiganya adalah Tapinim.

Dia dikenal sebagai UGRAM, karena keagungan tindakan-Nya, karena Dia menyerap seluruh alam semesta ke dalam Diri-Nya, menyerap semua sistem dunia, semua Deva, semua jiva, semua bhuta. Karena Dia mencipta, memelihara, dan meleburkan. Karena Dia menganugerahkan kedudukan mulia kepada para Deva dan semua makhluk. Wahai Nrisimha! Sebagaimana Engkau kini kumuliakan! Tercurahlah kebahagiaan yang tak berakhir kepadaku selama menjalani kehidupan ini. Semoga para Gana-Mu senantiasa bersamaku dan menghancurkan semua musuh-musuhku.

Melihat Rupa-Mu yang Maha-menakjubkan dan Maha-mengerikan, ketiga dunia gemetar ketakutan wahai Mahatma! Kami memuja-Nya sebagai kekuatan Yang Maha-memusnahkan. Dengannya kami akan menaklukkan dan membinasakan semua musuh-musuh, kebencian, dan kejahatan.

Karena Dia tidak pernah berhenti menjaga semua aspek alam semesta yang senantiasa aktif bergerak, maka Dia diagungkan sebagai Kemaha-adaan yang amat sangat ganas. Yang Agung demikian, juga tegas dan perkasa. Karena itu selanjutnya Dia dikenal sebagai Viram.


Dia dikenal sebagai VIRAM, karena dari Diri-Nya yang Mahamulia, dari keagungan-Nya, Dia menyediakan tempat bersandar bagi alam semesta, Dia menciptakan, menumbuhkan, memelihara, dan menyerap semua dunia, semua Deva, semua jivatma, dan semua bhuta. Dia adalah Vira, pencipta segala karya. Dia sangat ahli, bagaikan gunung, dan memuaskan keinginan para Deva.

Dia dikenal sebagai MAHAVISHNU, karena Dia menjadikan seluruh dunia terwujudkan. Dia menjadikan mereka semua mampu mewujudkan diri mereka sendiri. Bagaikan urat yang ditemukan sepanjang dan lebarnya daging, Dia meresapi segalanya. Tidak ada sesuatupun yang dapat menjadi ada tanpa Diri-Nya. Dia hadir sebagai Vishwa melalui semua Bhuta. Dia adalah Prajapati. Menghormati dan memuja seluruh bentuk kehidupan tanpa terkecuali adalah dengan menyembah Dia. Dia ada dalam ketiga Jyoti (Surya, Candra, dan Agni). Dia adalah penguasa keenambelas jenis seni dan merupakan sumber semuanya.

Dia menciptakan dan meresap ke dalam ciptaan. Wahai para Stotara! Akhirilah derita kelahiran demi kelahiranmu dengan mendapatkan pengetahuan sejati dari Pribadi Yang Maha-purba, Yang Kekal, dan Yang Benar. Dengan memahami Nama Suci Vishnu ini, lantunkanlah setiap saat! Oh Vishnu! Semoga orang lain juga mengulang-ulang pengucapan Nama Suci-Mu. Kami senantiasa menyembah kecemerlangan-Mu. Engkau, Sriman Narayana, adalah satu-satunya Rupa dari seluruh ciptaan ini dan adalah penyebab akar semuanya. Demikianlah Mahavishnu, membuat semuanya terkagum-kagum oleh kecemerlangan-Nya. Maka kemudian Dia dimuliakan sebagai Jvalantam, Yang Maha-cemerlang.

Dia dikenal sebagai JVALANTAM, karena melalui keagungan-Nya (Mahima) dan kegemilangan-Nya (Prakasha), yang memancar sendiri tiada bersumber dari yang lain (Svayam Jyoti), Dia membuat semua dunia, semua Deva, semua jiva, dan semua Bhuta menjadi bercahaya dan berseri. Dia adalah yang Maha-gemilang dan membuat yang lain bercahaya gemilang. Dia adalah Dipam, yang bersemayam di dalam Dipam, yang menyebabkan bercahayanya Dipam. Dia memancarkan panas yang berkobar dan membuat seluruh dunia menderita. Dia memancarkan cahaya dan menyebabkan cahaya dapat terpancar. Dia adalah Wujud Sejati segala keunggulan. Penyebab dari segala yang unggul dan mujur. Dia adalah sumber dari segala sifat-sifat mulia, Kalyana-svarupa. Maka dari itu Dia dipuja sebagai Jvalantam, Yang Berkobar-kobar.


Dia dikenal sebagai SARVATOMUKHAM, karena Dia melihat dan juga mendengar segalanya, di segala tempat tanpa memerlukan Indria. Dia pergi ke mana-mana, menyerap segalanya ke dalam Diri Dia, mewujud dalam segalanya dan ada dalam segalanya. Pada mulanya hanyalah Dia. Kemudian Dia menjadi segalanya. Mereka yang menjadi para pelindung dunia berasal dari-Nya. Pada akhirnya semua bersandar hanya kepada-Nya. Hamba bersujud kepada Dia yang Wajah-Nya berada di mana-mana!

Ketika melihat, Dia melihat. Ketika mendengar, Dia mendengar. Ketika bernapas, Dia bernapas. Ketika bergerak, Dia bergerak. Dia ada, namun kita tak mengenal-Nya sekalipun Dia ada. Semua indria kita sesungguhnya adalah indria-Nya dan apapun yang kita kerjakan sesungguh-Nya adalah karya-Nya. Hanyalah Tuhan ini yang hadir di segala arah. Ke manapun kita memandang, adalah Wajah-Nya.

Yang Ada sejak awal mula. Dialah sang benih dari semua benih. Dia adalah yang telah lahir, dan yang akan lahir, dan hadir dalam segala sesuatu yang lahir, sebagai Dia yang Wajah-Nya berada di mana-mana. Dia ada, dengan mata di mana-mana, dengan mulut di mana-mana, dengan tangan di mana-mana, dan dengan kaki di mana-mana. Dialah Yang Tunggal, Yang Esa, dan yang telah memberikan manusia tangannya, burung sayapnya, dan telah menciptakan segalanya yang ada di angkasa.

Walaupun Dia ada di setiap tempat dan berada dalam segala sesuatu, Dia tetap tak tersentuh oleh semua ini dan menikmati rasa yang terbaik terkandung dalam semuanya. Kami memuja-Nya, “Wahai Engkau yang bersemayam dalam kami semua dan indria-indria kami, Engkau tetap tidak tersentuh oleh kami, walau Engkau meminum manisnya Amrita-rasa dari segala yang terbaik yang mampu kami persembahkan!”

Karena Dia adalah Vaishwanara itu, Dia mempertunjukkan sebagian kecil dari semuanya ini, ketika keagungan-Nya dibutuhkan. Dia menjelma sebagai Yang Berwajah Singa, oleh karenanya Dia kemudian dimuliakan sebagai Nrisimha.

Dia dikenal sebagai NRISIMHA, karena dari semua binatang, singa adalah yang paling menonjol keindahan, keagungan dan kekuatannya. Maka Tuhan menerima Rupa setengah manusia dan setengah singa. Rupa yang tiada akhirnya ini hadir untuk melaksanakan segala karya kebaikan bagi seluruh alam semesta. Mahavishnu ini, yang memiliki keperkasaan tak terbatas (Viryam) dan hadir dalam wujud binatang (Mruga-rupa), bukanlah sumber ketakutan bagi para penyembah-Nya. Sebaliknya Dia adalah pujaan mereka. Dia adalah yang ada sebagai yang melaksanakan kegiatan agung di dunia ini, sebagai pertapa yang ada di dunia dan bahkan di gunung-gunung. Sebagai Trivikrama, Dia melampaui seluruh alam semesta dalam tiga langkah.

Sri Prahlada mendamaikan-Nya setelah Dia menunjukkan kemurkaan-Nya pada Hiranyakasipu, saat para Deva gemetar ketakutan melihat Rupa-Nya yang mengerikan. Tuhan, yang menyeramkan bagi semuanya, menyentuh kepala Anak-Nya dengan kasih sayang dan memberkati-Nya. Dia adalah Tuhan yang sama, yang perintah-Nya dipatuhi oleh semua Deva dengan penuh “ketakutan” dan hormat. Tanpa rasa takut itu, sekalipun tidak dirasakan oleh para penyembah-Nya, maka akan terjadi kekacauan yang tidak dikehendaki dalam pengaturan alam semesta. Oleh karenanya Dia dipuja pula sebagai Bhisanam, Yang Maha-menyeramkan.

Dia dikenal sebagai BHISANAM, karena Rupa-Nya menyebabkan seluruh alam semesta gemetar ketakutan. Dia menggetarkan semua Deva, semua jiva, dan semua Bhuta, dan membuat mereka berlarian ketakutan, sedang Dia tidak takut akan apapun juga. Dialah yang menimbulkan ketakutan. Angin berhembus karena takut pada-Nya. Surya bersinar karena takut pada-Nya. Agni dan Indra melaksanakan tugas mereka karena takut pada-Nya. Yama, kematian, juga takut pada-Nya.


Musuh-musuh akan ketakutan begitu mereka melihat-Nya sekilas saja. Dia sungguh membuat gentar mereka yang menjadi musuh kebenaran. Walau demikian Dia tidaklah bermaksud menimbulkan ancaman. Maksud-Nya adalah semata kebaikan bagi kita dan melaksanakan semua karya kebaikan. Karena Dia adalah Sat dan Mahavishnu. Dia “menjadi” Yang Maha-menakutkan demi menimbulkan rasa aman bagi mereka yang menyembah-Nya. Oleh karena sesungguhnya Dia adalah sumber segala berkat dan kemujuran, Dia dipuja pula dengan nama Bhadram.

Dia dikenal sebagai BHADRAM, karena Dia adalah sumber segala yang baik. Karena Dia berseri-seri dan membuat semuanya berseri dalam kemujuran. Karena Dia adalah Yang Indah dan menyebabkan segalanya menjadi indah. Hendaknya kita mendengar Yang Baik (Bhadram) itu dengan telinga. Hendaknya kita melihat Bhadram dengan mata. Dengan tubuh beserta segala anggotanya ijinkanlah kami hanya memuja Bhadram selama-lamanya!

Kuasa dari Yang Mahabaik ini adalah sedemikian rupa sehingga Dia menghalau Mrutyu dan Apamrutyu (kematian dan kematian yang tidak sepantasnya) begitu para Bhakta berpikir dan memuja-Nya dengan tulus. Dengan demikian Dia juga dipuja sebagai Mrutyu-mrutyum.


Dia dikenal sebagai MRUTYU-MRUTYUM, karena Dia memusnahkan Mrutyu dan Apamrutyu begitu Bhakta-Nya berpikir tentang Diri-Nya. Dia adalah kematian bagi kematian itu sendiri. Dia memberi kita kehidupan. Atma berasal dari Dia. Dia memberi kita kekuatan. Semua Deva menyerahkan diri dan menyembah-Nya. Kami memuja-Nya dengan persembahan Havi dari Yajna, sebagai yang bayangan-Nya adalah kekekalan, dan merupakan kematian dari kematian.

Dia dikenal sebagai NAMAMI, karena semua Deva, Mumukshu, dan Brahmavadi memuja-Nya dengan berbagai doa menurut keahlian mereka. Bahkan Indra, Varuna, Mitra, dan Aryama, semua berada dalam Diri-Nya. Beliau adalah Sri Nrisimha Narayana yang bersemayam dalam batin semua Devata dan membuat mereka layak dipuja.

Demikianlah Sri Nrisimha dimuliakan sebagai intisari manisnya semua Veda dalam Upanisad. Sri Nrisimha Bhagavan adalah SARVA-NIGAMA-RASAM. Dengan dimuliakannya Sri Nrisimha Bhagavan dalam Ahirbudhnya Samhita oleh Sri Rudra (Siva) dan semua Sat-agamam, maka Dia juga adalah SARVA-AGAMA-RASAM. Oleh karena Sri Mantraraja memuliakan Sri Nrisimha Bhagavan, maka dia tiada lain adalah SARVA-NIGAMA-AGAMA-RASAM-ALAYAM. Inilah sesungguhnya Anubhavam yang diperoleh dari mempelajari semua Veda, Srimad Bhagavatam, Divya Prabandham, dan semua Sri Sukti dari Sat Sampradayam lainnya.

Dengan bersandar pada ulasannya dan sembari bersujud di bawah kaki padma Srimad-alakkhiya-singhar-thiruvadigal Sri Nrisimha-seva-rasikan Ubhayavedantacharya Sri Oppiliappan Kovil Varadacharya Sadagopan Swami, hamba menguraikan keagungan Sri Nrisimha Mantraraja ini.

Harih Om Tat Sat Sri Govinda Govinda Govinda!
Sarvam-srikrishnarpanam-astu.

Rabu, 03 Maret 2010

TANTRA, APAAN SIH?

Kata Tantra menyatakan dua hal yaitu peraturan (viddhi) dan pengaturan (niyama). Viddhi menunjukkan serangkaian syarat-syarat yang ditetapkan untuk diikuti oleh praktisi sedangkan niyama adalah bagaimana seorang praktisi dapat mengatur dirinya supaya dapat menempuh jalan sesuai dengan aturan-aturan yang digariskan dalam viddhi.

Tantra berasal dari akar kata “tan”, tanyate vistaryante jnanam anena, iti tantra. Tantra merujuk pada tulisan, ajaran-ajaran suci yang dengan melaluinya pengetahuan suci dapat disebarluaskan atau diterapkan secara luas. Akhiran ”tra” berarti menyelamatkan, sehingga Tantra adalah pengetahuan atau kebijakan yang dapat menyelamatkan seseorang dari samudera samsara.

Tantra dipahami sebagai yang berhubungan dengan rincian-rincian Sadhana atau praktik disiplin spiritual Upasana. Dalam konteks ini, Tantra dijelaskan sebagai “ajaran yang dapat membawa kepada banyak pencapaian dan kemajuan dengan menerapkan cara-cara yang ahli dan bermakna sehingga pada akhirnya dapat mengarahkan kita menuju tujuan tertinggi dengan secepat-cepatnya.”

Tantra berhubungan dengan empat topik yaitu Charya (berkaitan dengan tugas-tugas relijius dan penerapan ajaran oleh praktisi dalam kehidupan sehari-hari), Kriya (berkaitan dengan pemujaan di kuil dan rincian-rincian yang diperlukan untuk mewujudkan “yang rohani” dalam manifestasi duniawi), Yogam (berkaitan dengan berbagai cara pengarahan dan pemusatan pikiran serta bagaimana jiwa praktisi menjadi lebih dekat dengan Pujaannya), dan Jnanam (berkaitan dengan pengetahuan atau lebih tepatnya pengertian/keinsafan praktisi dalam berbagai tahapan meditatifnya).

Yang memahami Tantra – menyebutnya Tantra, karena dia mampu menyediakan sarana yang tepat untuk mencapai pemenuhan dan penggenapan segala tujuan serta dapat melindungi seseorang dari bahaya-bahaya (yang dapat menyebabkan kegagalan).

Tantra juga dapat dimaknai sebagai sarana untuk menyebarluaskan energi kosmis atau energi rohani dalam batin praktisi. Jadi Tantra adalah teknik, upaya ahli, untuk menyerapkan diri praktisi dalam kekuatan dari Pujaan yang menjadi tujuan praktisi. Dengan demikian Tantra mengantarkan praktisi untuk “dipersatukan” bersama tujuannya bahkan dari awal praktik rohaninya.

Kata Tantra juga dapat dirunut asalnya pada akar kata “tatri”, yang berarti mendukung atau memberi dukungan. Di sini Tantra dipahami sebagai ajaran yang memberikan penjelasan atau keterangan mengenai aspek-aspek tertentu dalam Veda. Ada begitu banyak konsep mendasar yang hanya disebut saja dalam kitab-kitab Veda, dan kita diarahkan untuk mencari serta menemukannya dalam kitab-kitab Tantra.

Jadi dapat dipahami bahwa Tantra merupakan cara atau teknik ahli untuk menerapkan ajaran-ajaran dalam Veda sehingga dapat dicapai tujuan yang diinginkan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Seperti inilah Tantra hendaknya dimengerti secara luas oleh para praktisi.

Senin, 14 Desember 2009

MENGAPA KITA MENGGUNAKAN API DALAM AGAMA KITA?


Setiap keluarga Hindu seharusnya memiliki sebuah lampu minyak yang dinyalakan secara terus-menerus di altar keluarga atau tempat sembahyangnya. Lampu ini dinyalakan saat pemujaan pagi dan dipadamkan ketika waktu tidur tiba (atau seusai sembahyang malam saat tidak ada lagi kegiatan lebih lanjut yang akan dilakukan). Ini merupakan bentuk penyederhanaan dari pemeliharaan api suci yang pada jaman Veda merupakan bentuk ritual pengorbanan suci yang harus dilakukan terutama oleh perumah-tangga seumur hidup. Api suci yang sama digunakan sebagai sumber api di dapur dan pada akhirnya juga untuk menyalakan api kremasi. Jadi salah satu ciri khas dari tradisi suci kita adalah penggunaan api ini. Lampu minyak ini disebut Dipa atau ada juga yang menyebutnya Jyothi, yang artinya cahaya. Beberapa sistem meditasi dikembangkan dengan menggunakan cahaya lampu minyak ini sebagai objeknya. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi swahipnosis (memasuki kondisi hypnosis dengan usaha sendiri) dapat dilakukan dengan metode ini. Oleh karena itu banyak meditator yang merasakan ketenangan pikiran khas meditasi hanya dengan metode sederhana ini.

Sesungguhnya kekuatan persembahan api bukan sebatas itu saja. Melalui metode-metode khusus yang tertuang dalam Agamasastra atau Tantrasastra, bentuk pemujaan Veda yang cenderung rumit dan bersifat eksklusif diterjemahkan kembali sebagai pemujaan publik di Pura atau bentuk sederhananya di keluarga pribadi. Persembahan benda-benda duniawi yang dikonsekrasi atau diubah menjadi wujud rohaninya yang tak terbatas memegang peranan penting dalam pemujaan Tantrika. Paling tidak ada lima persembahan dasar yang disebut Upachara, berkaitan dengan lima unsur alam, yaitu tanah, udara, api, air, dan ruang. Tanah memiliki kekuatan aroma (gandha) dilambangkan oleh upachara-gandha, wewangian pasta cendana. Ruang memiliki kekuatan suara (shabda), dinyatakan oleh upachara-pushpa, persembahan bunga-bungaan. Udara memiliki kekuatan sentuhan (sparsha) dinyatakan melalui upachara-dhupa, membakar wewangian. Api memiliki kemampuan untuk memperlihatkan bentuk (rupa), ini diungkapkan dalam upachara-dipa, pelambaian pelita suci. Air memiliki potensi Rasa, kenikmatan dan pesona, ini diwujudkan dengan persembahan upachara-naivedya atau makanan. Jadi persembahan-persembahan ini bukan semata seperti memberikan jamuan kepada tamu, melainkan perwujudan dari ide mempersembahkan segala-galanya dalam penyerahan diri secara total kepada Tuhan, Asal dan Tujuan Akhir Segalanya.


Kata Yajna yang umumnya kini diterjemahkan sebagai pengorbanan suci, dalam Veda terutama merujuk pada berbagai bentuk upacara persembahan kepada api suci, seperti menuangkan mentega cair (ghee) dan biji-bijian kedalam tungku menyala yang telah dikonsekrasi. Diyakini bahwa api merupakan gerbang penghubung antara dunia spiritual dengan alam material ini. Api adalah sarana komunikasi yang paling kuat untuk menjembatani keberadaan kita dengan eksistensi kehidupan lain yang lebih luhur. Doa-doa yang dipersembahkan melalui media api akan disampaikan dengan segera, karena api memiliki kemampuan menyelaraskan vibrasi setiap benda, dan mengubah tiap benda dari wujud kasarnya menjadi wujud yang lebih halus. Dalam Veda dinyatakan bahwa Agni, deva yang menguasai api, adalah yang terbawah dari semua deva, dan Vishnu, Tuhan Yang Maha Esa adalah Yang Tertinggi, semua manifestasi rohani lainnya berada di antara kedudukan Agni dan Vishnu. Vishnu Sendiri, Tuhan Tertinggi dipahami sebagai Yajna-purusha, Pribadi dari pengurbanan suci, dan semua persembahan yang dibuat kepada deva atau pujaan yang manapun hanya akan diterima oleh Pribadi Tertinggi Vishnu.

Ritual Dipa-aradhana yang kini merupakan bagian tak terpisahkan dari persembahan-persembahan Tantrika atau Agamika sekali lagi merupakan penerjemahan dari Agni-upashana dalam Veda. Di sini nyala api dipa bukanlah sekedar api bagian dari lima unsur, namun merupakan kobaran api aspirasi rohani yang bersemayam dalam hati umat manusia, dengan lidah-lidahnya yang menjilat-jilat menuju kesempurnaan tertinggi. Apilah yang melambangkan kekekalan di antara yang tak abadi, sebagaimana dinyatakan dalam Veda sebagai wujud Tuhan, deva satu-satunya yang secara nyata berada di atas bumi untuk membantu manusia menggapai keluhuran Tuhan yang Termulia. Melalui upachara-dipa-aradhana yang dipersembahkan menurut aturan-aturan dan ritus Agamasastra, maka seseorang dapat dibebaskan dari kegelapan batinnya dengan terwujudnya cahaya pengetahuan rohani sejati.

yasmat svamahimna sarvan lokan sarvan devan sarvanatmanah sarvani bhutani svatejasa jvalati jvalayati jvalyate jvalayate | savita prasavita dipto dipayan dipyamanah | jvalan jvalita tapan vitapan santapan rocano rocamanah sobhanah sobhamanah kalyanah | tasmaducyate jvalantamiti ||
Karena keagungan Diri-Nya (mahima) dan kecemerlangan-Nya yang tiada bersumber dari apapun lagi (svayam-jyothi), Dia membuat segenap alam, para deva, semua jiva, semua bhuta, bercahaya gilang-gemilang. Dia mencipta dunia dan membuatnya berlipat ganda. Dia bersinar-sinar dan membuat yang lain bersinar terang. Dia Mahagemilang dan membuat yang lain gilang-gemilang. Dialah Dipam, yang bersemayam di dalam Dipam, dan yang membuat Dipam dapat bercahaya terang. Dia memancarkan panas bara dan membuat seluruh alam semesta menderita. Dia memancarkan cahaya dan membuat cahaya dapat memancar. Dialah Mangala-svarupi, sebab dan asal-muasal segala hal yang mujur dan mulia. Dialah Kalyana-purusha, Pribadi yang dipenuhi sifat-sifat luhur tanpa ada bandingan-Nya. Inilah Dia yang disebut Jvalantam, Yang Mahaberkobar!

Mantra dari Sri Nrisimha Uttara Tapini Upanishad ini menekankan aspek dari Sri Bhagavan, Pribadi Tertinggi yang mahabercahaya dan yang tertampak bagi kita. Upanishad-upanishad memuat Aditya-upashana dan Jyothi-upashana, pemujaan kepada Tuhan sebagai inti yang bersemayam dalam bulatan matahari dan cahaya Dipa (Jyothi), sebagai sebuah metode rahasia yang disebut Madhu-vidyaa. Dengan demikian Tuhan adalah Jyothi itu sendiri. Skandopanishad menjelaskannya sebagai sa-eva jyotishamjyothi Cahaya dalam cahaya, Cahaya segala cahaya, senada juga dengan pernyataan Brhad-aranyakopanishad 4.4.16. Jadi dalam mantra ini aspek dari Tuhan Yang Mahacemerlang, yang memancarkan cahaya panas dan kehidupan dimuliakan melalui kata Jvalantam.

Dalam manifestasi alam semesta yang tampak ini, kita haruslah bermeditasi kepada Surya (matahari) dan menginsafinya sebagai Jvalantam Yang Mahasempurna. Chandogya Upanishad membahas panjang lebar mengenai pengetahuan rahasia Madhu-vidyaa tersebut. Oleh karena itu pula dalam Vaishnava-sampradayam kita melaksanakan Sandhyavandanam dan beberapa bahkan juga melakukan Dipa-puja, pemujaan kepada pelita suci. Ini bukan semata pemujaan api, tetapi Dia yang dilihat oleh para Rishi Upanishad sebagai Kalyanam, vyuha rasmin samuha tejah yatte rupam kalyanatamam tatte pasyami (Isopanishad 16).

Chadogya Upanishad 3.13.7 membahas lebih lanjut mengenai Jyothi ini sebagai yang bercahaya di antara kita dalam Rupa atha yadatah paro divo jyotih dipyate visvatah prshtheshu sarvatah prshtheshvanuttameshuttameshu lokeshvidam vava tadyadidamasminnantah purushe jyotih, di atas semua alam kehidupan, di balik segenap Loka, Svayam Jyothi ini bercahaya menguasai semua yang lain. Jvalantam ini berada di mana-mana seperti dinyatakan oleh Mahanarayanopanishad 1.2.2 dan juga oleh Svetasvatara Upanishad 4.2 tadeva agnih tadadityah tat vayuh tad u candramah tadeva sukram tad brahma tat apah tat prajapatih Diri-Nya Sendirilah Agni, Surya, Vayu, Candra, Sukra, Brahma, Apah, dan Prajapati. Dialah Govinda, karena Go juga berarti Jyothi atau nyala, maka Sri Govinda adalah benih sejati, inti yang bersemayam dalam nyala api. Dialah yang ada dalam Jyothi.

Kamis, 05 November 2009

DEVA DAN TUHAN DALAM HINDU

Apakah Deva-deva Hindu adalah sama saja dengan Tuhan? Manakah yang benar, mereka adalah manifestasi Tuhan (jadi tentunya tidak berbeda dengan Tuhan) atau mereka adalah makhluk hidup biasa yang juga diciptakan Tuhan?

Dalam masyarakat Hindu saat ini kita paling tidak memiliki pemahaman konsep ketuhanan yang tergolong bersifat Vedic, Pauranic, Agamic/Tantric, dan Upanisadic-Vedantic. Semuanya hidup bersamaan dalam bentuknya yang telah mapan dalam sistem keyakinan masyarakat Hindu. Walau terdapat perbedaan seperti ini, namun semuanya bersumber dan berdasarkan Veda (baca Sruti).

Nasadiya-sukta dan juga pernyataan terkenal yang selalu dikutip sebagai mahavakya, ekam sat vipra bahudha vadanti, mewakili sesuatu yang kita sebut ketuhanan Vedic. Nama-nama deva yang berbeda adalah merujuk kepada Satu Kebenaran Tertinggi yang Esa. Satu disebut dengan banyak nama. Satu Yang Esa diapresiasi dalam berbagai nama deva yang berjenis-jenis.

Dalam Tantra atau Agama, khususnya Vaishnava-agama, Satu Yang Esa ini diapresiasi dalam lima aspek yaitu Para, Vyuha, Vaibhava, Antaryami, dan Archa. Kemudian dalam Upanisad dan Vedanta-sutra kembali Satu Yang Esa ini dinyatakan sebagai Brahman (transendental impersonal), Paramatma (transendental immanens), dan Ishvara/Bhagavan (transendental personal). Sedangkan pada Purana akan didapatkan Satu Persona Tertinggi (apakah disebut Vishnu, Siva, Devi, dll.) dengan deva-deva atau persona-persona lebih rendah lain sebagai ciptaan dan pelayan-Nya. Cukup membingungkan memang.

Secara khusus menurut pemahaman yang berlaku dalam tradisi Vaishnava, macam-macam nama deva sebagai berbagai gelar untuk Satu Kebenaran Tertinggi adalah “versi Veda”, karena semua Sampradaya Vaishnava mengatakan bahwa Veda hanya berbicara mengenai Kebenaran Mutlak Tertinggi yang Esa itu. Tetapi macam-macam nama deva merujuk pada makhluk-makhluk berbeda yang diciptakan oleh Tuhan dan bertindak sebagai pelayan-pelayan-Nya yang perkasa, ini merupakan “versi Purana”.

Ini bisa dijelaskan apabila kita mempelajari secara teliti Purusa-sukta yang terdapat dalam semua Veda dengan sedikit variasi (Rig Veda Samhita 10.7.90; 1— 6. Taittiriya Aranyaka 3.12.13, Vajasaneyi Samhita 31; 1—6, Sama Veda Samhita 6.4. Atharva Veda 19.6). Pada sukta ini dijelaskan bahwa deva-deva melaksanakan yajna dengan menggunakan Adhi-purusa sebagai bahannya. Dari yajna ini kemudian muncul segala isi alam semesta dan juga deva-deva. Lho bagaimana bisa deva-deva melakukan yajna padahal mereka belum terwujud. Kasarnya, boleh dikatakan belum diciptakan dan belum ada. Apa sukta ini salah?

“Deva pertama” menyatakan berbagai pusat-pusat pengolahan pengetahuan dan kekuatan bertindak (potensial aksi) pada “tubuh alam primordial” yang merupakan pancaran kekuatan kehidupan (prana) dan kesadaran (cit) Tuhan. Dalam hal ini tidak ada beda antara deva dengan Tuhan karena deva menyatakan aspek-aspek Tuhan yang beraneka warna. Inilah yang disebut dengan berbagai jenis nama deva dalam Veda. Selanjutnya ketika “tubuh alam primordial” yang diaktivasi oleh energi Tuhan “melahirkan” manifestasi kosmis, alam beserta segala makhluk yang hidup di dalamnya, terbentuklah berbagai lapisan alam kehidupan. Tubuh alam mewujudkan berbagai bentuk jasmani dan energi Tuhan memproyeksikan kehidupan ke dalamnya. Saat itu pula terwujud pula bentuk-bentuk kehidupan yang sangat maju kesadarannya, yang memiliki kepantasan menampung ekspresi energi Tuhan di alam semesta duniawi. Inilah yang disebut para deva dalam Purana. Mereka adalah makhluk hidup yang diciptakan. Ambil contoh Indra. Dalam Veda, Indra menyatakan Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pemimpin Tertinggi. Namun dalam Purana, Indra adalah makhluk agung Svargaloka yang terlahir dari Aditi dan Kashyapa sebagai pemimpin dari makhluk-makhluk agung serupa. Indra dalam Veda dipahami berbeda dengan Indra dalam Purana. Agar lebih memahami lagi hal ini, saya menganjurkan untuk mempelajari lagi Krishna Yajurveda Taittiriya-aranyakam anuvaka 23, mantra 90-98. Apa yang dinyatakan dalam Purusa-suktam lebih diperinci lagi dalam Aranyakam ini.

Kesimpulannya apakah deva sama dengan Tuhan? Bila kita bicara dalam konteks Veda, ya. Tapi dalam konteks Purana-Itihasa dan juga keyakinan umum masyarakat, tidak. Purana-Itihasa terutama mewakili pandangan masyarakat secara umum, yang tentu saja akan lebih sederhana dan mudah dipahami. Ini adalah pandangan popular, berbeda dengan Veda yang menghadirkan pandangan kesarjanaan dan filosofis. Dalam pengertian ini, deva-deva Veda dengan Purana berbeda. Lalu mengapa namanya sama? Kenyataan sederhana ini bisa menjawabnya. Venkateshan adalah nama Tuhan Penguasa Seluruh Alam Semesta. Nama saya juga Venkateshan, dan jelas saya bukan Tuhan. Namun nama saya dan juga pribadi saya akan amat sangat bermakna bila saya mampu mewujudkan sifat-sifat rohani Tuhan Venkateshan, walau sebagai makhluk hidup biasa kekurangan saya pasti jauh lebih banyak. Para makhluk hidup ciptaan yang mahaperkasa, yang bersemayam di alam-alam yang memiliki kualitas spiritual lebih tinggi ini juga disebut deva-deva. Mereka mampu mewujudkan kualitas rohani manifestasi Tuhan tertentu di alam semesta ini dengan skala yang besar. Sehingga sebagaimana kita temukan dalam Satapatha Brahmana 6.1.3.9. Suatu pribadi perkasa diciptakan oleh Brahma, lalu dia berkata, “anapahata-papma’ham asmi namani me dhehi, Aku tak luput dari noda dosa, mohon anugerahilah aku sebuah nama”. Saat itu Tuhan Sendiri memberikannya salah satu Nama Beliau Sendiri, yang mewakili kekuatan amarah-Nya. Pribadi itu lalu diberi nama Rudra berikut nama lain yang berjumlah sebelas (kisah serupa juga terdapat di Bhagavatam). Jadi kita bisa melihat bahwa Sri Rudra adalah salah satu nama Sriman Narayana, Tuhan Yang Maha Esa. Ini terbukti dengan adanya stotra bagi Rudra yang justru kita temukan di Mahanarayana Upanishad. Jadi Narayana adalah sama dengan Rudra, itu hanya nama lain Beliau saja, dalam konteks ini. Lalu nama Rudra tersebut dianugerahkan kepada makhluk perkasa yang diciptakan melalui Brahma, yang akhirnya juga terkenal sebagai Deva Rudra. Dalam diri Rudra ini, manifestasi kekuatan amarah dari Sri Narayana yang juga disebut Rudra, mewujudkan dirinya. Namun Rudra yang diciptakan ini adalah makhluk golongan deva yang tidaklah sama dengan Tuhan.

Menurut konteks kalimat dalam bahasa Sanskrit yang sesuai dengan tatabahasa (Vyakarana) dan kosakata (Nirukta), kata deva bisa berarti Tuhan, junjungan, pujaan, dan juga makhluk golongan deva. Istilah yang umum misalnya kita dapatkan pada, varam deva moksham na (hamba tidak menginginkan anugerah moksha sekalipun darimu O Deva!) dan deva ucuh (para deva berkata). Kata penganugerahan moksha tidak bisa dilekatkan pada pribadi selain Tuhan Tertinggi Sri Mukunda (Sang Penganugerah Moksha). Jadi seruan “Deva” di sini hanyalah merujuk kepada Sri Bhagavan Mukundadeva Krishna, Paravasudeva, Sriman Narayana, bukan yang lain. Sedangkan ucuh merupakan bentuk jamak dari uvaca yang berarti berkata. Ini menjadi ada banyak deva-deva yang sedang berkata, atau dalam bahasa Indonesia bisa dikatakan para deva. Dalam konteks ini kata deva tidak mungkin merujuk kepada Pribadi Tertinggi, karena Beliau adalah tunggal. Mengikuti jejak Srila Prabhupadaji Maharaja, beliau menggunakan terjemahan Inggris demigods untuk menyatakan makhluk-makhluk deva seperti ini dan Godhead, untuk menyatakan Parabrahman, Kebenaran Mutlak Yang Tunggal. Dengan pemahaman menyeluruh semacam ini, yang berdasarkan atas telaah teliti pernyataan-pernyataan Sruti dan juga pemahaman atas Purana, Itihasa, dsb. maka sesungguhnya tidak ada kontroversi antar pernyataan-pernyataan sastra suci kita. Keyakinan dan pandangan yang tampaknya berbeda-beda mengenai kedudukan ontologis deva dalam masyarakat Hindu akan dapat dipahami seluruhnya sebagai suatu kebenaran.

Anda bisa saja menerima atau menolak penjelasan tersebut. Tapi bila tidak demikian, lalu bagaimana kita menjelaskan tradisi Vaishnava, yang dikatakan tidak memuja siapapun selain Vishnu dan menganggap deva lainnya lebih rendah, tetapi sampai hari ini masih melantunkan Aruna Prashnam yang penuh berisi pujian Veda kepada Indra, Pusha, Surya, dll dalam upacara-upacara sucinya. Kita juga harus ingat bahwa Sri Ananteshwara di Udupi, yang kita puja sebagai Tuhan Narayana justru berwujud sebuah Sivalinga. Contoh lain, dalam Sri Brahma-Madhva Sampradaya kita juga memuja Sri Rudra. Kembali contohnya adalah Udupi. Di sana ada Sri Candramaulishwara yang merupakan rupa dari Rudra. Namun puja dipersembahkan kepada Sri Rudranamaka-paramatma yang adalah Sri Sankarsana Bhagavan. Sankarsana Bhagavan tidaklah berbeda dari Sriman Narayana Sendiri. Jadi bukankah kita juga memuja Rudra sebagai salah satu rupa Sriman Narayana? Kita juga memuja Vayu mengucapkan Mukhyaprana-antargata Sri Krishnarpanamastu. “Semoga Sri Krishna yang adalah inti dari Sri Mukhyaprana, napas semesta Vayudeva berkenan menjadi puas oleh persembahan ini”. Kembali di sini Vayu tidaklah berbeda dari Krishna. Namun ada cerita bahwa para deva seperti Vayu, Agni, Indra, tidak dapat mengalahkan Ravana. Apakah Vayu, Agni, dan Indra ini adalah Tuhan? Ini semua menyatakan bahwa Vayu, Agni, Indra yang dimaksud dalam cerita ini tidaklah sama dengan yang dinyatakan dalam Veda sebagai nama-nama lain dari Sang Pribadi Tertinggi. Golongan pertama dijelaskan dalam Veda, sedangkan deva-deva dalam konteks ke dua diulas dalam Purana, Itihasa, dll.

Kenyataan di lapangan akan membuktikan lebih daripada perdebatan atas pernyataan-pernyataan sastra Veda yang memiliki begitu banyak makna. Dharma kita adalah tunggal sekalipun kita harus tetap mempelajari dan meyakini sebaik-baiknya kebenaran tradisi rohani atau sampradayam pilihan masing-masing sesuai dengan karakteristik pribadi (svabhava), kondisi kehidupan (bhumika), dan kualifikasi (adhikara) kita. Karena itu saya hanya menyampaikan apa yang saya ketahui menurut sampradaya saya. Terimakasih banyak

Kamis, 08 Oktober 2009

How could we develop divine qualities?

Some may think about learn it from books, joining personality class, etc. But this was not approved by shastras. Even if we can train our self with so much difficulties and great endeavor, still it need more time and many things could happen in the course. That if we talk only about mere good qualities, but what about divine qualities of bhakti? They are more difficult to obtain. Need thousands of life time.

But anyway we have to somehow attain perfection or siddhi. What is the need to performing various sadhanas (spiritual practices), tapasya (austerities), etc. if we couldn’t gain anything? What is the need of hard sadhanas without even any trace of hope to attain the sadhya (goal)? But our shastras said by sat-sanga, pure association, we can get all siddhi, all perfections. Yes, most of us already know this. “I think I have sat-sanga with many sadhus…, but nothing happened.” How could our shastras be wrong?

The only fault was in our side. We think we have sadhus-sanga, but actually we just do some “human social conducts”. The shastras said Lava-matra, that’s mean 1/11 second, of association with a sadhu will give us all perfections. We stay near a great pure devotee of The Lord 24 hours a day for more than 10 years, but nothing happened. Did we really perform sat-sanga? Mostly not. Even if Sri Bhagavan Himself, as Antaryami, was there 24 hours a day, as long as we live in this body, still we couldn’t develop any single divine qualities. Didn’t Sri Bhagavan is ananta-kalyanaika-gunanidhi, the ocean of unlimited divine qualities? The Bhagavatas are abode of Sri Bhagavan, He stay in the core of their heart, that’s why a pure devotee verily a manifestation of Bhagavan’s mercy and also embodiment of all kalyana-gunas (kalyana-guna sad-dhama). But shastras, as we cited earlier, also said that Sri Bhagavan appear as Antaryami for all beings. Didn’t all of us always get His association uninterruptedly? Why we still get no perfection?

The Bhagavatas realized the presence of Bhagavan but we didn’t. Though Bhagavan is standing near us, still we can’t recognize Him. The revered Bhagavatas are in constant sanga with Bhagavan, since they accept; realize His divine presence, thus relishing His divine qualities. Sri Bhagavan was fully revealed to Bhagavatas, His divine presence with indescribable beauties and transcendental glories, was perfectly illumined the Bhagavatas from head to toe. They were immersed in divinity.

Similarly, though we happened to stay near a Bhagavata, but if we couldn’t recognize him/her, what is the use? There is no real sanga at all. We didn’t see a great pure devotee of the Lord, shining with His glories, and abode of Love of Godhead. We saw outwardly, an old man need some help or an ignorant young boy, but never a Sadhu-bhagavata. Accordingly, we will get an association of old man or child, but never association of a sadhu.

Then our personality was formed by outward judgments. We would find faults, discrepancies, errors, etc. After that we will become full of faults, full of discrepancies, and full of error. Why we can’t see the real form of Bhagavatas? Because we still have prides, jealousy, and the worst of all, matsarya, envious heart. We didn’t want to see any goodness in any person. “Yes, you can do that, but I can do better” or “Yes, maybe you good in that, but certainly you can’t do my expertise”. By thinking like this, though in a pond there are golden pebbles, but we will see only mud. Why? We are only looking for mud. Not gold.

We didn’t feel any joy in seeing others’ perfection. In material ground, if we see a richer person, more good looking friend, more smarter… then we want to compete him/her. We become morose when someone is better than us. We try to defeat them or we try to find fault with them. Certainly, we will find some faults. But they will give us impression in our mind and heart. Faulty impression… then we become worst, since anything begin from mind.

In spiritual ground maybe we could always think positively toward a Sadhu-bhagavata. But here the association has more sublime divine form. Gita said pranipata, surrender, and seva, serve. In real sat-sanga there are acts of surrender, prapatthi or saranagati, and service. We approach a Bhagavata and get his sanga, that’s mean we surrendered our self to the Bhagavata and do seva, serve him. But in fact we come to Bhagavata with special personal interest. To gain something from him. We are not serving but trying to enjoy Bhagavata. We are not Sevi but a Bhogi. Then Sri Bhagavan will cover the Bhagavata and cheats us by put a merchant there. What is the meaning? Let we take an example. “I shall serve this Bhagavata, since I know just by serve him I would become great too. I will get perfection if he pleased by my service. I shall become Bhagavata myself…” Sri Bhagavan could understand this intention and so did the Bhagavata. Then the Bhagavata would say, “I’m pleased with your service. May you become great!” We think this is a pure blessing from Bhagavata and Bhagavan, but how could be something pure was bestowed to us, if our service was tainted by egoistic intention? It could not be pure loving devotional service. This is vanik-vrutti, merchant tendencies, a transaction. But Sri Bhagavan and his pure devotee weren’t cheater. They will give us a fair transaction. Didn’t we get that words, “I’m pleased with your service. May you become great!”, from Bhagavata’s lotus lips as we always hankering for? Then many people will begin to recognize us. “This person is a Mahant. He got benediction from Bhagavata. Sri Bhagavan certainly was pleased with him”. Then they will fall under our feet. “Pranam Mahant! Dandavat!” We will become a great man, very important person. Did we really get our goal? Yes. Our goal, but not the real goal of life, sat-prayojana. We get what we want, but it could be real divine qualities or not. All was depending on us alone…

Rabu, 07 Oktober 2009

KENAPA KRISHNA TIDAK BUAT SEMUA ORANG SAJA JADI PENYEMBAHNYA?

Srila Venkatanatha Acharya atau Sri Vedanta Desika menyatakan bahwa segala bentuk kebahagiaan dan kenikmatan duniawi, serta semua tujuan yang bersifat duniawi memiliki tujuh kelemahan yang disebut Sapta-dosha.
1. Alpa – hasil akhir dari semuanya bersifat palsu
2. Asthira – hanya bertahan sekejap dan sangat sementara
3. Asukara – tidak mudah diperoleh, butuh banyak usaha dan menghabiskan banyak waktu
4. Asukhavasana – akhirnya hanyalah dukacita dan kekecewaan
5. Dukhanvita – bahkan juga selalu diikuti oleh ketidakpuasan dan hanya didukung oleh perjuangan
6. Anucitam – tidak sesuai dengan keberadaan kita yang sejati
7. Abhimana-mulam – didasari atas rasa ke-aku-an yang palsu dan mengarah kepada semakin berlanjutnya rasa jati diri yang khayal

Dharma atau jalan hidup rohani sejati, memberikan makna yang sesungguhnya dan juga arti tertinggi bagi hidup ini. Keputusan untuk berusaha memahami atau memilih jalan rohani biasanya berasal dari ketidakpuasan kita atas segala kekurangan dan kelemahan dalam hidup yang kita jalani. Namun pertanyaannya mengapa seseorang yang kita lihat sama menderita dan tidak puasnya dengan diri kita, atau juga bahkan lebih menderita dari kita, justru sama sekali tidak berusaha untuk memahami Dharma? Mengapa seseorang bisa hidup nyaman di tengah penderitaannya?

Itu karena dia, jiva yang terperangkap dalam tubuh duniawi, sepenuhnya berada dalam khayalan. Ini merupakan keadaan alamiah semua jivatma terikat yang berada di manifestasi alam semesta fana. Jadi sebenarnya semua makhluk di alam ini mengalami kebingungan atau menjalani hidup dalam keadaan tertipu yang sama. Dengan demikian adalah alamiah bila mereka terperangkap dalam konsep jati diri yang salah, hidup dalam keadaan yang tidak sebenarnya, dan berusaha menggapai tujuan yang bukan seharusnya.

Jivatma pada dasarnya penuh kebahagiaan. Karena itu semua makhluk hidup selalu menginginkan kebahagiaan. Tetapi karena semuanya berdasarkan atas konsep pemahaman yang salah atau tidak seharusnya, maka mereka menganggap keberhasilan duniawi yang ternoda oleh Sapta-dosha sebagai tujuan utamanya.

Di sisi lain, jivatma merupakan bagian dari Tuhan Sendiri. Jivatma bersumber dari Tuhan dan jati diri sejatinya adalah berhubungan dengan Tuhan. Sekalipun kebahagiaan (anandam) merupakan karakteristik sejati dari jivatma, namun ketika dia terpisahkan dari Krishna, kebahagiaan sejati ini tidak terwujud dan tidak bisa dirasakan secara sempurna oleh jiva. Srimad Pillai Lokacharya mencontohkan bahwa salah satu hubungan jiva dengan Krishna dijelaskan sebagai sesha-seshi sambandham, artinya Krishna adalah Sang Pemilik (seshi) dan jiva adalah milik-Nya (sesha). Kepemilikan di sini bukan seperti hak milik terhadap benda-benda yang terpisah, seperti kita dengan sepeda motor kita contohnya. Tapi milik yang sangat berharga dan disayangi seperti tubuh ini. Tangan, kaki, mata, semua sangat berharga bagi kita. Semua adalah bagian dari tubuh ini. Hubungan seperti itu juga dipahami sebagai sharira-shariri sambandham, seperti badan (sharira) ini dengan pemilik dari badan ini (shariri) yaitu kita. Tentu saja kita menerima ini sebagai perumpamaan, sesuai keadaan kita saat ini, karena kita juga diajari bahwa sang diri sejati bukanlah badan. Tapi perumpamaan itu cuma untuk mempermudah pemahaman saja. Oleh hubungan yang begitu akrab ini, Krishna menganggap bahwa semua jiva adalah milik yang sangat dicintai-Nya. Ketika milik-Nya yang sangat berharga ini berpisah dengan Beliau dan mengalami begitu banyak penderitaan tanpa mampu merasakan kebahagiaan sejati sama sekali, maka dengan segala cara Beliau berusaha untuk membuat mereka kembali berkumpul bersama-Nya.

Krishna sebagai Tuhan Yang Maha Esa dikenal sebagai ananta-kalyana-guna-nidhim, samudera sifat-sifat rohani yang tiada batasnya. Salah satu divya-gunam terpenting yang ada pada Krishna adalah Daya atau Kripa, yaitu Maha-welas asih. Belas kasih Krishna tidak terbatas seperti lautan. Beliau adalah Daya-nidhim, samudera belas kasih. Oleh karena itu sedikit saja ada pelayanan (kainkaryam) yang dilakukan oleh jiva. Setitik saja, bahkan tanpa diketahui atau disengaja oleh jiva, maka ini akan segera menggerakkan Krishna untuk mencurahkan Daya-Nya. Ini disebut ajnata-sukritham atau ajnata-bhakti-sukrithi.

Semua hubungan kita pada Krishna berdasarkan atas CINTA. Dalam cinta hanya ada kerelaan, keikhlasan, tidak ada paksaan. Karena itu Krishna tidak memaksa jiva untuk datang mencintai Beliau, sekalipun Beliau tahu jiva adalah milik-Nya yang paling berharga, dan dia hanya akan bisa berbahagia bila berada bersama Beliau. Cinta ini hanya bisa tumbuh oleh cinta juga. Ini bukan perdagangan. Itu sebabnya jiva hanya bisa datang kepada Krishna, juga hanya melalui karya-karya dalam cinta. Segala jenis perbuatan bajik, kedermawanan, atau aktivitas keagamaan seperti melakukan pertapaan, sumpah hidup suci, dsb. tidak bisa membawa kita kepada Krishna. Hanya aktivitas dalam cinta rohani atau bhakti (divya kainkaryam), yang bisa membawa kita kepada Beliau. Contoh dari aktivitas bhakti ini ada banyak sekali sebagaimana disebutkan dalam berbagai bhakti-sastra. Tapi mudahnya saya coba golongkan jadi dua, yaitu berhubungan dengan Krishna secara langsung dan berhubungan dengan para Vaishnava-Mahabhagavata, penyembah murni yang sejati. Contoh kainkarya pertama adalah misalnya mempersembahkan puspanjali, bunga pada kaki padma Srimurti atau Archa Krishna. Contoh yang kedua misalnya memberikan tempat berteduh kepada Vaishnava-Bhagavata saat hujan atau panas terik.

Dalam salah satu kehidupan dari jiva, anggaplah misalnya dia lahir sebagai petani. Di sawahnya dia membangun sekedar pondok berteduh untuk menjaga padi dari burung, lalu di dekat pondok itu dia menanam sebatang pohon bunga, jepun (kamboja) misalnya, untuk senang-senang saja. Kedua jenis kainkarya di atas lalu akan saya gabung saja contohnya, supaya ada bayangan. Suatu ketika seorang Vaishnava-Bhagavata lewat di tempat itu, karena panas terik beliau lalu berteduh di pondok si petani. Bersama Bhagavata ini juga ada sebuah salagrama-sila atau Archa Krishna yang beliau puja. Waktu sudah siang dan Bhagavata ini ingin melakukan persembahan kepada sila atau Archanya, lalu beliau memetik beberapa bunga dari pohon jepun yang ditanam petani itu. Seketika itu juga Krishna, karena Beliau adalah Maha-berbelas kasih, parama-dayalu, menemukan alasan untuk mencurahkan karunia-Nya yang dikenal sebagai prasada. Prasada adalah aliran karunia berbentuk nyata yang dapat membawa jiva kembali kepada-Nya.
Krishna menganggap petani itu sengaja membangun sebuah pondok untuk tempat berteduh sadhu-bhagavata, maka ini menjadi bhakti-kainkaryam. Lalu Krishna juga menganggap petani itu sengaja menanam pohon jepun demi menyediakan bunga untuk keperluan puja kepada Archa Beliau, ini juga menjadi bhakti-kainkaryam. Walaupun sebenarnya bukan itu maksud si petani, bahkan dia juga tidak tahu ada sadhu-bhagavata berteduh di pondoknya dan memetik bunganya. Tetapi Krishna tetap menghitungnya sebagai bhakti-kainkaryam. Jasa rohani yang muncul dari kainkaryam ini disebut ajnata-sukritham. Ajnata-sukritham sudah cukup untuk membuat Krishna mengubah Daya yang ada dalam Hati Beliau menjadi Prasada. Hanyalah melalui Vaishnava-sadhu-mahabhagavata dan aktivitas bhakti tanpa noda motivasi duniawi ini saja, Prasada dari Krishna dianugerahkan kepada jiva.

Ajnata-sukritham
kemudian akan tumbuh menjadi apa yang kita sebut sraddha, keyakinan rohani terhadap Dharma. Sraddha ini menjadi dasar untuk tahap selanjutnya dari bhakti. Sri Krishna sebagai Paramatma kemudian mengarahkan jivatma ini, apakah dalam hidup saat itu juga, atau dalam hidup selanjutnya, sehingga dapat bertemu lagi dengan seorang sadhu-bhagavata secara pribadi ataukah melalui ajarannya, yang kemudian akan membawa dia selanjutnya bergerak terus agar dapat berkumpul lagi dengan Parambrahman Bhagavan Sri Krishna. Saat itu jugalah, jiva secara tulus dan murni akan mulai bertanya mengenai jati diri sejatinya, apa tujuan dari kehidupan ini, dan bagaimana dia bisa mencapai kebahagiaan sejati yang mahakekal. Paramatma, Tuhan yang bersemayam dalam hati semua jiva, mengetahui segala sesuatu yang ada dalam sang jiva, apa kehendaknya, apa yang diinginkannya, apa tujuannya. Paramatma kemudian mengarahkannya pada jawaban yang diinginkannya. Ketulusan dan kemurnian dalam mencari jawaban ini, membawanya lebih lanjut untuk lebih memahami diri sejatinya dan sifat sejatinya, lalu menentukan bagaimana posisinya dalam kehidupan di masyarakat dan peranannya di alam semesta ini.

Minggu, 27 September 2009

Pemujaan Krishna?

TRADISI PEMUJAAN SRI KRISHNA (VERSI GOUDIYA) DALAM VEDA DAN TANTRA

Upasana adalah metode yang dilaksanakan oleh seorang aspiran rohani dalam proses mencapai Tuhan Pujaannya. Upasana dalam Agamasastram atau Tantrasastram terutama dianjurkan pada jaman Kali ini, karena jalan Tantra memungkinkan seseorang mencapai kesempurnaan dengan cepat, dalam satu tubuh dan satu kehidupan saja. Salah satu sastra suci Agamika (atau Tantrika) terpenting dalam Sri Goudiya Vaishnava adalah Pancamodhyaya Sri Brahma Samhita (PSBS). Bersama dengan Sri Krishna Karnamrutam dari Sri Lilasukha (Bilvamangala) sastra ini dibawa oleh Bhagavan Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu dari India Selatan. Sekalipun sastra suci ini boleh dikatakan eksklusif Goudiya, namun isinya menunjukkan keunikan dan peran yang sangat penting dalam tradisi Bhakti secara keseluruhan. PSBS memuat uraian mengenai kemuliaan Svayam Bhagavan Sri Govindadeva, pujaan utama dalam tradisi Sri Goudiya dan sekaligus salah satu Ista-deva yang paling banyak dianut oleh para pengikut Veda, terutama oleh mereka yang mengikuti jalan Bhakti. Kita semua mengetahui bahwa pemujaan Sri Krishna atau Bhagavan Govindadeva adalah termasuk yang “terfavorit” dalam masyarakat penganut Veda-dharma saat ini. Bagi mereka, dalam PSBS dapat ditemukan sekumpulan besar sastra-pramana dari berbagai Vaishnava-sastra, termasuk pula dari Empat Veda Utama, Smruti, Purana, dan Bhagavata. PSBS juga memberikan petunjuk upasana, yang khas dalam sastra-sastra Tantra, seperti metode meditasi mantra, visualisasi, pelukisan yantra-mandala, dan puja. Sedangkan secara khusus boleh dikatakan bahwa upasana yang diterapkan dalam silsilah Sri Goudiya tiada lain adalah upasana yang diuraikan oleh PSBS.

Saya pribadi melihat PSBS sebagai pintu utama untuk merunut sumber asli pemujaan Sri Krishna dalam Veda, khususnya Sruti-sastra. Sejarawan berpikir bahwa pemujaan kepada Sri Krishna dan upasana kepada Beliau sebagai Pribadi Tertinggi dengan Wujud (rupa), Nama, Sifat-sifat rohani (gunam), dan kegiatan sukacita rohani-Nya (lila), hanya dimulai pada awal c.e. (Masehi). Secara arkeologis, pemujaan Sri Krishna paling tidak telah memiliki pengikut yang besar dan well-established pada abad ke-2 b.c.e. Seorang duta besar dari raja Yunani Antialkhidas untuk raja Kashiputra Bhagabhadra di India, yang bernama Heliodorus adalah seorang pemuja Sri Krishna. Ini sekaligus menepis tuduhan orang yang mengatakan bahwa pemujaan Sri Krishna dalam masyarakat Hindu atau kemunculan tokoh Krishna merupakan adopsi dari ajaran Kristen ditambah pengaruh monotheisme Islam. Walau demikian, ini tidak menjelaskan hubungan pemujaan Sri Krishna dengan sumber Veda-sruti yang asli. Dengan demikian asumsi kita selama ini adalah Sri Krishna dan pemujaan kepada-Nya sebagai Pribadi Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa (Svayam Bhagavan) adalah produk keagamaan post Sruti. Sri Krishna adalah Tuhan dari Smruti, Itihasa, dan Purana, bukan Tuhan dalam Sruti atau Upanishad. Paling jauh Sri Krishna adalah Tuhan post Mahabharata, karena di sanalah Krishna muncul sebagai tokoh penting, dan di sanalah terdapat Bhagavad-gita, sabda Sri Krishna yang memiliki kemungkinan sebagai “biang keladi” terciptanya kultus terhadap Sri Krishna yang mengagumkan itu. Jadi tidak mungkin ada pemujaan Sri Krishna sebelum lahirnya “Sri Krishna historis”. Kesimpulan demikian hanya bisa diterapkan apabila kita menganut kesejarahan dengan sistem waktu linear seperti agama-agama Abrahamik, agama berpusat sejarah. Sedangkan sistem waktu yang kita anut dalam Veda adalah siklik dan Veda-sruti berada dalam kekekalan yang melampaui sang waktu.

Tantra juga disebut Agama, “yang datang mengikuti”, mengikuti Nigama atau Sruti-sastra. Veda, terutama Sruti, disebut Nigama, “yang memancar”, karena diyakini sebagai pengetahuan kekal yang memancar langsung sebagai emenasi napas Brahman. Logikanya, apapun yang ada dalam Agama, pasti ada sumbernya dalam Nigama. Sebagai contoh, konsep emenasi Vyuha dalam Pancaratra Agama dapat dirunut sumbernya pada Purusha-sukta dalam Sruti. Lebih lanjut, Purusha-sukta adalah dasar dari semua cabang Vaishnava-agama berikutnya. Purusha-sukta ini terdapat dalam semua bagian Sruti yaitu pada Rg-vedam Mandala ke-10 sukta 90, Sukla Yajur Veda Vajasaneya Samhita 31.1.16, Krishna Yajur-vedam Taittiriya Aranyakam 3.12. 13, Saama-vedam 4.3, dan Atharvana-vedam 19.6.3. Inilah satu-satunya Sukta yang ada pada semua Sruti dan dimuliakan oleh semua denominasi pengikut Veda. Pribadi Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dijelaskan mulai mantra 1 sebagai Sahasrasirshapurusha atau Adipurusha. Inilah Tuhan dalam Sruti yang dipuja pertama kali oleh Hiranyagarbhan melalui Sarvahuta-yajna. Dalam tradisi Vaishnava, Tuhan Tertinggi ini lalu diungkapkan lebih lanjut dalam Narayana-sukta yang diawali juga oleh mantra yang sama (sahasrasirshapurushah vishvaksham vishvasambhuvam vishvamnarayanam devam…). Lalu di manakah Krishna?

Setelah menjelaskan mengenai Adipurusha sebagai Tuhan Tertinggi, keempat Sruti lalu menguraikan identitas-Nya sebagai sumber segala-galanya melalui mantra-mantra berikutnya dalam Purusha-sukta seperti purushah evedam sarvam…(Adipurusha adalah semuanya ini), …tatha vishvam vyakramat… (Adipurusha meresapi segalanya), …tasmadviradajayata… (melalui Adipurusha lahirlah Virat-Unsur Primordial), dst. “Peta” menuju Brahman atau Kebenaran Mutlak Tertinggi ini lalu berlanjut ke bagian selanjutnya dari Sruti yaitu Upanishad. Muktikopanishad memuat daftar 108 Upanishad yang diawali oleh Isavashya. Isavashya Upanishad dengan jelas menunjukkan kesinambungan ide mengenai Kebenaran Tertinggi Adipurusha ini dengan mantra pertamanya, …isavashyamidamsarvam… (Isham adalah semuanya ini) yang senada dengan Purusha-sukta. Dari sini dimulailah “petualangan” menembus Brahma-vidya atau ilmu pengetahuan mengenai Brahman, yang juga disebut parama-jnanam. Di sini kita akan memasuki belantara pengetahuan yang sangat dalam, yang hanya dapat dipahami melalui kemurahan hati dan belas kasih sang guru sejati (sad-acharyar), sang pelihat kebenaran (tattva-darshi), yang mengijinkan kita duduk dekat kakinya demi menemukan Parabrahman, Sang Adipurusha. Pembimbing lainnya adalah prinsip logika yang disebut sarva-sakha-pratyaya-nyaya, memandang keseluruhan pernyataan Veda sebagai kebenaran yang bebas dari segala noda dengan satu kesatuan pendapat yang bebas kontradiksi.

Sebelumnya kita menemukan bahwa Adipurusha Yang Maha Esa adalah sumber segalanya, kini kita bertemu dengan pernyataan seperti dalam Taittiriya Upanishad dan Chandogya Upanishad ini, “Aku Esa! Jadilah Aku banyak! (eko’ham bahu syam)”. Topik Upanishad adalah seputar ini. Tentang Ekam (Yang Esa) dan Aham (Sang Aku). Aham di sini merujuk kepada Adipurusha, yang dari Ekam (Satu) dengan keinginan-Nya saja lalu menjadi Bahu (banyak), menjadi segala-galanya (vishvam-sarvam). Aham inilah yang disebut pula sebagai Tat Sat, Parabrahman, dan OM. Siapakah Aham, Ekam, Tat Sat, Parabrahman, dan OM ini? Satu Upanishad diungkapkan oleh Durvasha Maharishi sebagai “pelihat” yaitu Sri Gopala Tapaniya Upanishad (SGTU).

Apakah keunikan Upanishad ini? SGTU diuraikan oleh Hiranyagarbhan, sebagai yang juga telah mengungkapkan Sang Adipurusha melalui Purusha Sukta dan menempatkannya dalam keempat Veda-sruti sebagai mahkota mereka. Dalam SGTU para deva yang sebelumnya tercipta melalui Sarvahuta-yajna yang dilakukan Hiranyagarbhan bertanya kepadanya, “Siapakah Adipurusha? Siapakah yang bahkan membuat kematian merasa gentar? Siapakah yang dengan mengetahui-Nya maka segalanya akan diketahui? Siapakah yang menjadi sumber pencipta dunia ini?”

Hiranyagarbhan lalu mengungkapkan hal ini kepada mereka semua. “Krishna adalah Adipurusha. Kematian takut pada Govinda. Dengan mengetahui Gopijanavallabha segalanya diketahui. Dengan mengucapkan kata Svaha, Sang Adipurusha menciptakan segenap alam ini.” Lalu para deva dan rishi bertanya lagi, “Siapakah Krishna? Siapa Govinda? Siapa Gopijanavallabha? Apakah Svaha?” Hiranyagarbhan melanjutkan, “Krishna adalah Dia yang membebaskan dari segala dosa. Govinda adalah Dia yang termashyur di seluruh alam semesta ini, dalam semua Veda, dan di antara para sapi Surabhi yang memenuhi segala keinginan. Gopijanavallabha adalah Dia yang menawan dan mempesona para gopika, dan Svaha adalah kekuatan dari Yang Mahatinggi. Semua nama ini merujuk kepada Adipurusha, Pribadi Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa.” Purusha Sukta menjelaskan bagaimana Hiranyagarbhan melaksanakan Sarvahuta-yajna dengan dirinya sebagai korban persembahan. Selanjutnya segenap alam semesta beserta semua devata pengendalinya tercipta dari yajna ini. Untuk seterusnya, semua yajna Veda harus dilaksanakan dengan mengucapkan mantra-mantra Purusha Sukta. Lalu mantra apakah yang digunakan Hiranyagarbhan untuk mempersembahkan Sarvahuta-yajna di awal penciptaan? Inilah yang diungkapkan dalam SGTU, yaitu mantra yang mengandung nama Krishna, Govinda, Gopijanavallabha, dan Svaha. Dalam Tantra atau Agama ini adalah mantra untuk Sri Krishna Upasana yang disebut Sri Gopala Mantra. Mantra paling rahasia dan paling kuat dalam Vaishnava Tantra. Dengan ini tampaklah sumber Nigama atau Sruti-sastra dari pemujaan Krishna atau Sri Krishna Upasana.

Hiranyagarbhan dalam SGTU juga berkata, “Aku selalu memuliakan Sang Adipurusha dan memusatkan pikiran kepada-Nya dalam tapa selama berjuta-juta tahun dan pada akhirnya aku dapat menginsafi wujud rohani-Nya yang asli, apasya gopam anipadya nama, aku melihat Sosok Seorang Anak Gembala. Dengan cintakasih memenuhi hatiku, aku bersujud di hadapan-Nya. Dia memberiku mantra delapanbelas aksara (Sri Gopala Mantra) untuk digunakan dalam penciptaan, dan setelahnya Dia lalu menghilang.” Inilah Sruti mengenai Sri Gopala Mantra dan Sri Krishna Upasana. Lalu berbagai Tantrasastra juga menjelaskan Mantra-upasana-nya seperti dalam Narada Pancaratra, Sanat-kumara Samhita, Ahirbudhnya Samhita, dsb. Dalam garis silsilah pewarisan ajaran Sri Goudiya diberikan inisiasi (diksha) ke dalam Sri Gopala Mantra delapanbelas aksara ini berikut upadesha (instruksi-instruksi rahasia)-nya yang harus dimohonkan dari Sad-acharyar. PSBS secara khusus adalah petunjuk dan pedoman untuk melaksakan Upasana Mantra ini.

PSBS dimulai dengan kata ishvarah paramah krishnah. Kata Ishvaram atau Isham juga merujuk pada bagian Upanishad dari Sruti. Ini bisa berperan sebagai sejenis indeks. Makna yang tersirat adalah kini kita akan membicarakan Dia yang diuraikan oleh yang dimulai dari kata Isham yaitu semua Upanishad diawali oleh Isavashya. Paramam juga bisa menjadi indeks untuk berbagai Sukta yang memuliakan Adipurusha atau Paramapurusha dalam Veda. Krishna, selain merupakan Nama Tuhan secara langsung, juga menyatakan Mantra. Seluruh PSBS adalah pengejawantahan dari makna Purusha Sukta yang adalah puncak semua Sruti (Nigama) dan penjelasan mendalam mengenai Sri Gopala Mantra delapanbelas aksara yang adalah permata dalam Tantra (Agama).

Jadi Sri Krishna dan Upasana-Nya dijelaskan dalam Sruti-sastra, yaitu pada Sri Gopala Tapaniya Upanishad bagian dari Atharva-veda. Pada bagian Sruti yang lain, yaitu pada 108 Upanishad yang dinyatakan oleh Muktikopanishad juga terdapat Sri Krishna Upanishad dan Kalisantarana Upanishad (Krishna Yajur-veda) yang secara nyata mengungkapkan Sri Krishna. Beberapa pernyataan esoterik dalam Sruti seperti ...raso vai sah... dan ...shavalacchyamam prapadye shyamacchavalam prapadye... menurut para Purva-acharyar juga merujuk kepada Sri Krishna dan Upasana-Nya. Sedangkan dalam Tantra, khususnya Vaishnava Tantra atau Pancharatra-agama, sangat jelas dinyatakan bahwa Tuhan Tertinggi yang mengungkapkan Nigama dan Agama kepada Brahma adalah Sri Krishna. Silakan baca contohnya di http://dharmadvar.blogspot.com/2009/06/narada-pancaratra.html Dengan demikian dipahami bahwa Sri Krishna dan Upasana kepada-Nya berakar kuat baik dalam tradisi Vaidika maupun Tantrika. Sri Brahma Samhita merupakan kitab yang tergolong Agamatantra, dan mendasari praktik spiritual yang utamanya dilaksanakan oleh golongan Goudiya Vaishnava, serta segera menjadi "khas Goudiya". Walau demikian bentuk awalnya juga sudah terdapat pada tradisi Sruti.